Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 April 2014

Di Kota Kecil Tanpa Nama

Di kota kecil tanpa nama
Kegelapan menyergap
Sesekali hewan malam saling bersahutan

Di kota kecil tanpa nama
Pendar cahaya rembulan
Menemani tapak kaki kecil

Tanpa arah tujuan
Dia melangkah
Terus melangkah

Di kota kecil tanpa nama
Dia asing
Seluruh penjuru mata melirik

Dengan tubuh berbalut luka
Dia terus melangkah

Di kota kecil tanpa nama
Tubuh kecil itu limbung
Tak ada satupun mengenalnya

Di kota kecil tanpa nama
Tubuh berbalut luka
Menjadi saksi kebisuan negeri antah berantah

Tak tahu siapa penyebabnya?

Palembang, 26 April 2014

Sabtu, 22 Desember 2012

Puisi di muat di Batak Pos, Medan 1 Desember 2012


Kerudung Jingga


Semburat senja menyamarkan
Kau berlalu tanpa kata
Hanya sebuah senyum yang tercurahkan
Hingga kerudung jinggamu terhempas semilir angin

Dalam keheningan aku menyapamu
Dibalik kerudung jingga
Kau pun tetap tak menjawab
Senyum dan bola matamu yang kau siratkan
Menyimpan sebuah misteri

Siapakah pemilik kerudung jingga itu?
Bolehkah aku mengenalnya lebih dekat
Dan apakah mimpiku akan menjadi nyata?

Ya Tuhan…
Siapakah nama pemilik kerudung jingga itu?
Setiap senyum dan tatapan bola matanya
Sangat meneduhkan jiwa ini

Ya Tuhan…
Ijinkanlah aku bertemunya walau itu hanya sesaat
Karna jiwa ini mulai meronta
Merindu atas kasih dan cinta-Mu yang tak mampu meredam


Palembang, 2008

Puisi di muat di Sumatera Ekpress (Expresi) 6 Juli 2012

Keheningan Malam

Ya, Tuhan…
Di malam yang begitu hening
Aku terkukung membisu
Dinding-dinding putih membeku

Ya, Tuhan…
Di manakah aku saat ini?
Jiwaku terombang-ambing
Aku seperti batang tak bercabang

Ya, Tuhan…
Kuatkanlah imanku
Jadikanlah aku manusia sempurna di matamu
Luluhkan semua dosaku

Ya, Tuhan…
PadaMu, aku bersimpuh
Memohon segala risalah
Di keheningan malam, aku merinduMu



Palembang, 29 Juni 2012      

Puisi di muat di Republika Online 19 April 2012


BALADA RONGGENG


Di tengah keheningan malam. Gendang bertalu-talu. Riuh lampu malam semakin memanas.
Sebuah panggung tidak besar. Sosok perempuan nan jelita. Dengan pakaian khasnya meliuk-liukkan tubuhnya.
Tepuk tangan kembali berpadu. Asap rokok terus mengepul.
Mata nakal mereka terus menatap keelokan penari.
Gendang terus bertalu. Menghentak pinggul penari menggoda hasrat untuk mendekap. Saweran terselip di dada dan gendang ikut bertalu..

Demi sesuap nasi. Ia lakonu kemunafikan ini. Baginya, malam menjadi siang. Siang menjadi malam. Begitulah kata orang. Ronggeng.
Biar kata orang sana-sini. Hatinya bersikeras hanya untuk putrinya semata wayang.
Putri yang senantiasa memberinya cahaya untuk masa depan.

Malam kembali menghentak. Pukulan gendang semakin kencang. Liukkan pinggul serentak dengan kesenyapan malam. Matanya sudah tidak kuat untuk mengikuti hentakan gendang.
Tapi, apa daya demi putrinya. Ia lakukan apa saja. Halal.
Walau sebagian orang mengganggapnya hina. Namun, ronggeng adalah pekerjaan mulia.
Menghibur orang yang tengah jenuh.


Palembang, 2012





PENARI


Malam semakin larut. Suara gendang mengalahkan derik jangkrik.
Sorot lampu meremang di tengah keramaian.
Mata nakal semakin menghasrat.


Air matanya kembali meretas. Tak sanggup ia menahan. Batinnya tersiksa.
Cemoohan. Hinaan. Ia terima. Tapi, apa daya…
Dengan menari ia menghidupi keluarganya.





Palembang, 2012

http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/puisi-sastra/12/04/19/m2pz20-balada-ronggeng-dan-penari



Puisi di muat di Republika Online 21 Maret 2012


Aku Jatuhkan Talak Kepadamu


Tok… Tok… Tok…
Aku jatuhkan talak ketiga kepadamu
Saat ini kau sah
Berada dalam jeruji besi
Di mana semua mata telah menunjukmu…
Kini, canda dan tawamu
Akan menjadi cemooh semua publik

Apakah kau tak lihat saat ini?
Indonesiamu menangis…
Tetapi, di balik itu
Kau permainkan rakyatmu sendiri

Recehan demi recehan
Di kumpulkan untuk hidupnya
Tapi, di balik jasmu yang rapi
Kau buat sebuah pesta kecil
Hingga helak tawamu terdengar
Indonesia yang mendengar
Menjadi malu…
Di manakah rasa hatimu itu?

Kini, wajahmu telah tertunduk…
Perbuatanmu setimpal dengan talak itu
Meja hijau bisu
Telah menjadi saksi perbuatanmu
Selama ini

Hai, jasmu yang rapi…
Renungkanlah perbuatanmu…
Jangan sampai ulahmu terulang kembali…


Palembang, 5 Maret 2011



Dusta Cerita

Pilar-pilar cahaya membumbung ke angkasa
Asap kepul hilang menjadi gelak tawa
Recehan yang berhamburan terselip di antaranya
Sekecil harga tak digubrisnya

Lihatlah…
Rintihan tangis menahan perih
Langkah kaki yang tergontai
Perut kosong demi recehan
Dia sisihkan ke kantong hati

Tapi, apa yang kulihat di balik gedung sana?
Pakaian berdasi yang begitu rapi
Dia simpan seribu cara untuk hidupnya
Masih adakah perasaannya?
Demi bangsa ini
Tanya itu masih menggantung sejuta jawaban

Buih-buih cerita kau janjikan
Kini hanya dusta
Yang kau tinggalkan
Demi bangsa Indonesia
Janjimu hanyalah cerita belaka


Palembang, 5 Maret 2011


Buih Koruptor

Pekat dingin tak kausalami
Lebur jiwa tak kauindahi
Hingga inilah sebab akibatmu

Hai, buih yang terpojok
Lihatlah sosok itu
Diam tanpa kata
Kepul asapnya pun makin menjadi
Warna-warnanya pun tetap kian menarik
Di bisunya dinding-dinding hari

Namun, tak kaupahami
Di luar buihmu
Ada jiwa yang menjerit
Segenggam recehan terus di raihnya

Tapi, di balik itu
Kau buat permainan kecil
Hingga semuanya menjadi sengsara
Kini, buihmu tak lagi khusus
Tetapi buihmu dicap maklumat koruptor
Mata-mata pun yang menatapmu
Enggan hadir untuk membela

Buihmu…
Hanya membisu di antara hari-harimu
Nikmatilah di balik keseragaman…

Palembang, 7 Maret 2011


http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/12/03/21/m187a2-aku-jatuhkan-talak-kepadamu-puisi
http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/puisi-sastra/12/04/12/m2awo1-dusta-cerita-puisi
http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/12/03/21/m187ga-buih-koruptor-puisi

Minggu, 28 Oktober 2012

Negeriku Tak Merdeka ; Sumpah Pemuda


Lihat, para pemuda di ujung jalan sana
Suaranya berteriak memekik keadilan
Tapi, apa…
Gedunggedung pencakar langit membisu

Lihat, para pemuda berjas biru
Air matanya mengalir tiada henti
Kepergian sahabatnya
Hanya menjadi kenangan

Lihat, dibalik gedung putih membisu
Para penjabat masih menerima secawan tuak
; korupsi, narkoba merajalela
Gelak tawanya terdengar hingga di ujung jalan

Lihat, mobilmobil hitam pekat
Memekik telinga
Mengarung jalanan ibukota
Rangkaian bunga duka bertebaran

Apakah negeri ini telah merdeka?
Teriak para pemuda berjas kuning
Dengan lantang di ujung jalan sana
Tidak…
Negeri ini belum merdeka



Palembang, 28 Oktober 2012

Sabtu, 04 Agustus 2012

SEMU (Palembang-Semarang)

Dia hanya semu, semu, dan semu

Kenapa kau datang jika akhirnya hanya semu?



Jika dia datang bagai semu

Hilangkan rasa semu itu menjadi nyata

Dan hadirkan dia nyata di antara semu



Apakah masih ada harapan menjadi nyata?

Semu tetaplah menjadi semu

Aku bodoh tergoda dengan kesemuanmu



Jika ingin berharap

Hanya dengan berdoa

Agar menjadi nyata



Aku gerah dengan kondisi ini

Lenyapkan semuanya



Buang saja

Jangan dekati aku lagi…



Aku tak mendekatimu

Kenapa kau makin mendekat?

Disaat aku menjauh…



Kalau begitu aku akan enyah

Sejauh yang kau mau



Apakah kau benar-benar lenyap dari hidupku?

Apakah kau mau berjanji tidak akan datang kepadaku kembali?

Jawab!



Jika itu maumu, baiklah aku akan pergi

Sejauh yang kau inginkan….











Palembang-Semarang



Ayumi Maulida & Echa Kare

4 Agustus 2012

Rabu, 20 Juni 2012

Kumpulan Puisi Facebook ~ Ayumi Maulida

Bukan aku, diam berarti marah
Bukan pula aku, diam berarti merajuk

Aku memilih diam
Karena sesuatu...

Disini langit malam terbentang
Cahayanya pun senantiasa tersenyum membias
Ingin aku dekap
Tapi, aku sadar...
Ia menjauh

Ah, sudahlah...
Malam ini aku tetap tersenyum
Langit malam tidak mereddup
Cahayanya pun senantiasa mengintai
Dimana pun berada

Aku merindunya...

20.06.2012
20.23


Hancur...
Luluh lantah...
Kini, duniaku kelam
Kepada siapa aku mengadu?
Air mata ini tak bernilai

Sudah lelah aku berlari
Sudah lelah aku mendaki
Tapi, apa yang aku dapatkan
Di sana hanya ada sebongkah batu
Tawa gelak dunia tak lagi peduli

Kini, duniaku tak seceria
Senyum tawanya senyap
Kesyahduan angin hanya sesekali menerpa
Di ujung kerudung tak bersuara
Aku mendengar bisik hatimu

18.06.2012
14.20


Baru kali ini, aku begitu tertatih
Sungguh, aku tidak sanggup...

Tapi, dalam kurun waktu tak terhitung
Tiba-tiba kau hadir dalam hidupku

Setiap detak nadimu
Kau bagai pelita hatiku

Setiap desah nafasmu
Kau bagai rusukku
Sungguh, aku terpukau...

16/06/2012
14.05


Aku tertatih tanpa kata
Aku terombang-ambing di tengah lautan

Masihkah ada jiwa peduli
Tanyaku menggantung
Ingin aku berontak

Tapi, percuma...
Suaraku nyaris habis

01/06/2012
20.18

Minggu, 12 Februari 2012

Kebekuan Malam

Malam ini terasa hening
Hanya kebekuan yang mampu kurasakan
Terkadang aku mencoba mencari cara agar rasa beku itu hilang
Tapi,
Tubuhku ini semakin menggigil
Kabut malam yang melintas di keheningan
Semakin merayap

Sejenak aku rebahkan tubuh ini di atas kebekuan
Tatapan mataku memandang ke langit
Namun, bukanlah cahaya yang aku dapatkan
Tapi kegelapan yang telah membungkam asaku

Kini aku hanyalah seonggok kayu
Kayu yang mulai memiliki rongga di setiap sudut
Terkadang kayu ini akan merapuh
Bersama waktu aku mulai tidak berdaya
Tangisan pun semakin mendera
Jemari pun seakan tidak mampu aku genggam



Palembang, 12 Februari 2012
01.00

Sabtu, 14 Januari 2012

Aksara Terindah

Teruntuk ; Alm. Ibunda dari sahabatku Tri Vivin Alvina


Enam tahun yang lalu
Masih kuingat guratan teduh wajahmu
Senyummu yang begitu lepas
Kala kami membuat rusuh
Secangkir sirup segar penghilang dahaga
Sepiring puding cokelat susu
Kau sajikan untuk kami


Empat tahun yang lalu
Guratan teduh wajahmu masih sangat kurasa
Kala itu putri kesayanganmu telah dipinang
Kamipun berkumpul menjadi satu
Suka dan dukapun menyambut
Ketika si bungsumu tidak mau diajak foto bersama
Kamilah yang merayunya

Tiga tahun yang lalu
Sudah lama aku tak menjengukmu
Sudah lama pula aku tak menyapamu, Ibu
Walau saat itu engkau telah sedikit pelupa
Namun, aku tahu di hatimu masih ada sejuta cinta dan rindu
Kala kami berkumpul dan selalu membuat rusuh
Kamipun merindu kala itu tiba, Ibu

Genap sudah tahun berlalu
Aku masih tak percaya
Ketika sebuah pesan singkat menghampiri ponselku
Putrimu yang telah dipinang nan jauh disana
Memberi kabar kepadaku
Sungguh, aksara terindah ini akan aku kenang, Ibu




Palembang, 14.01.2012

Senin, 09 Januari 2012

MENULIS

Menulis...
Menulis...
Menulis...
Menulis...
Menulis...
Menulis...
Dan menulis...

Namun, aku seperti lemah
Jiwaku terapung di antara lembah curam
Inginku teriak di antara keramaian
Tapi, keheninganku kembali menyeribak
Sepertinya aku bukan seperti dulu
; kertas, pulpen, pensil, laptop
Hanya penghias ruang kamarku

Kata-kata yang dulunya menjadi ruang hidup
Meredam entah kemana?
Kucoba mengais hasta-hasta cinta
Namun, setitik itu menghilang

Menulis, kembalikan aku seperti dahulu
Cinta dan hasta akan kuukir sepanjang hayat


Palembang, 24 September 2011
Ayumi Maulida

Sabtu, 07 Januari 2012

10 INCI

Di depan layar tak beraksara
Aku terdiam membisu
Aku pandangi layar yang hanya berukuran 10 inci
Tidak serupa dengan televisi di ruanganku

Dengan bluur layarku mengerdipkan warna-warna indahnya
Satu-persatu data di desktop muncul
Anti virus pun mulai bekerja sesuai tugasnya
mengisntal semua data yang tersimpan

Layar 10 inci pun total bersih dari virus
Dengan pelan, aku buka kembali beberapa dokumen
Dengan khidmat, aku eja kalimat demi kalimat menjadi sebuah sajak
Namun, sayang sajak itu hilang
Aku sendiri tidak tahu kemana sajak itu menghilang

Akupun kembali membisu
Hanya deru musik pop-jazz, nasyid yang menemaniku
Di layar 10 inci tak beraksara



Palembang, 2012

Sweety Home Alone

Selasa, 03 Januari 2012

Harapan


Setahun berlalu sangat cepat
Banyak kenangan yang tidak bisa aku lupakan
Sejenak aku mencoba untuk merenung
Namun, renungan itu semakin menyayat
Ketika luka itu hadir
Dan berharap di awal tahun
Luka itu tak lagi menyayat dan membekas
Sungguh, walau itu terasa amat sulit
Hanya dengan kesungguhan semuanya akan sirna
Cahaya pun akan terang benderang


Palembang, 03 Januari 2012

Sabtu, 10 Desember 2011

Di Tepi Sungai Musi

Di tepi Sungai Musi
Aku duduk bersanding dengan dirimu
Dengan malu,
Aku hanya bisa tersenyum

Di tepi Sungai Musi
Kau bercerita tentangmu
Sorot matamu seakan mentap tajam ke mataku
Dalam diam, aku hanya bisa tersipu malu

Di tepi Sungai Musi
Canda tawamu mengalahkan segalanya
Hingga kapal-kapal yang melaju
Menatap keceriaanmu

Di tepi Sungai Musi
Denganmu aku mendapat kebahagiaan
Walau sejenak, senja telah menjadi saksinya


Di tepi Sungai Musi
Akan aku kenang di antara kita
Walau sejatinya akan ada persahabatan
Yang akan terikat di hati


Palembang, 12/10/2011

Minggu, 13 November 2011

GEBYAR 100 PUISI PAHLAWAN- PAHLAWAN PEMATANG


Pagi itu, tubuh yang telah di makan usia meninggalkan gubuknya
Dengan kaki telanjang dan sebuah bakul yang di gendongnya
Senyum manisnya begitu teduh
Tidak ada tanda-tanda rasa perih yang menusuk hari-harinya
Dengan semangat menggelora
Dia langkahkan kakinya ke pematang sawah

Pagi itu, permadani hijau begitu indah
Burung-burung pun tak mau kalah bersanding dengan guratan mentari
Seakan tak pernah letih, dia terus memangkas padi yang mulai keemasan
Masa panen telah tiba

Siang itu, mentari kembali terik
Keringat sebutir jagung terus mengucur dari dahinya
Guratan wajahnya pun tak nampak keletihan
Senyum teduh di balik bola matanya semakin menggelora
Apakah dia pahlawan yang aku cari selama ini?

Senja pun mulai menjemput
Pematang sawah yang sedarinya menghijau
Kini, lenyap bersama mentari
Kaki telanjangnya pun mulai beranjak dari pematang
Dengan sebuah bakul yang telah diisi beberapa butiran beras
Semangatnya terus berkibar
Seperti kata pahlawan pematang
"Teruslah Maju Indonesiaku"


Palembang, November 2011



Ayumi Maulida nama pena dari Siti Fatimah, A.Ma, Pd. Lahir di Palembang, 5 Juli 1986. Lulusan D-II FKIP PGTK UNSRI 2005. Aktivitas seorang guru private TK dan SD. Selain itu, aktif di Komunitas Virus Baca dan Anggota FLP Palembang. Karyanya di Antologi Puisi Kado Untuk Indonesia 2011(Literar Khatulistiwa), Antologi Puisi Justin Bieber My Idol 2011(Leutika Prio), Antologi Curahan Hati Untuk Tuhan 2011 (Leutika Prio), Antologi Sehangat Dekapan Cinta Ramadhan 2011 (Leutika Prio), Antologi Kumcer WR 01 2011(Leutika Prio), dan beberapa antologi yang masih dalam proses penerbitan.
E-mail : istiqomah_ayumi@ymail.com
FB : Shitie Fatimah Maniezz



Ikatan Suci

Satu cinta
Terikat dalam satu jiwa

Dua cinta
Terjerat dalam satu asmara

Tiga cinta
Terjebak dalam satu aksara

Empat cinta
Saling menyatu berpadu di dunia

Cintamu cintaku cintakau cintakalian
Menjadi ikatan suci

11/11/2011

Jumat, 28 Oktober 2011

PARADE 100 PUISI SUMPAH PEMUDA - HAI, PEMUDI-PEMUDA INDONESIA, BANGKITLAH!

Hai, pemudi-pemuda Indonesia, bangkitlah!
Singsingkan lengan bajumu
Tumpahkan darahmu dalam karya-karya sejati
Bersatu padu untuk bangsamu

Hai, pemudi-pemuda Indonesia, bangkitlah!
Tonggak tanah air ada di tanganmu
Genggamlah kebersamaan
Jauhkanlah pertikaian membutakan jiwa

Hai, pemudi-pemuda Indonesia, bangkitlah!
Singsingkan lengan bajumu
Dirikanlah bangsamu dengan kedamaian
Tebarkan budaya nasionalisme di dada

Hai, pemudi-pemuda Indonesia, bangkitlah!
Junjunglah bahasamu, bahasa Indonesia
Bahasa pemersatu
Tanah air tanah Indonesia




Palembang, 28 Oktober 2011
Ayumi Maulida



Selasa, 25 Oktober 2011

Aksara Cinta

Angin
Kaulah nafasku
Senyumanmu menghentak jiwaku
Andai malam ini
Ragamu ada disini
Akan kucumbu mesra dengan cahaya rindu

Cahaya yang kau ukir untukku
Indahnya akan tersemat
Namamu kan selalu tersimpan
Tak peduli siang-malam
Aku akan merindu dan mencintaimu, angin




Palembang, 24/10/2011

Selasa, 09 Agustus 2011

Bidadari Cahaya Putih

  ; Untuk Mbakku Phoenix Wibowo (Rizki Mumpuni)

/1/
Dalam rengkuh waktu
Aku mencoba mengais hasta-hasta yang tersisa
Tapi, hasta itu kunjung jua hadir
Sebersit cahaya putih mengepakkan sayapnya
Tatapan mata biru yang indah
Serta seulas senyum teduh
Hadir memberi warna
Kini, hilang seketika

/2/
Akar-akar menggantung di antara pohon beringin
Tak mampu meredam semuanya
Ketika buliran demi buliran menetes
Tiap rusukku terasa perih
Seperih anak jarum yang menyayat belati
Tanah yang berdebu pun tak mampu kubendung
Ketika hujan langit telah tiba
Tanah putih yang seputih melati
Dan seharum sedap malam
Kini, memerah seketika
Bidadari cahaya putih
Akan aku ukir namamu di hati


 Palembang, 9 Agustus 2011

19.01


Selasa, 02 Agustus 2011

Bidadari Penyejuk Jiwa

Namanya mengingatkanku pada masa silam
Kala suka maupun duka selalu ada
Kini, namanya hadir kembali
Membentuk sebuah hati yang tak terpisahkan

Dalam gelembung waktu
Aku ingin memeluknya
Bersapa ria tiada batas
Di balik kerudungnya
Aku merasa nyaman hatiku pun teduh
Dia bidadari penyejuk jiwa

Di setiap petuahnya aku mendapat hikmah
Di setiap petuahnya pula aku mendapat inspirasi baru
Ketika aku sedih…
Bidadari bermata indah dengan balutan kerudung hijau
Hadir…
Memberi seuntai senyuman
Tatapan matanya pun sangat sejuk
Ketika suaranya terdengar makin sejuk
Dialah bidadari penyejuk jiwa
Senantiasa memberi motivasi kepada siapapun


Palembang, 28 Juli 2011