Di kota kecil tanpa nama
Kegelapan menyergap
Sesekali hewan malam saling bersahutan
Di kota kecil tanpa nama
Pendar cahaya rembulan
Menemani tapak kaki kecil
Tanpa arah tujuan
Dia melangkah
Terus melangkah
Di kota kecil tanpa nama
Dia asing
Seluruh penjuru mata melirik
Dengan tubuh berbalut luka
Dia terus melangkah
Di kota kecil tanpa nama
Tubuh kecil itu limbung
Tak ada satupun mengenalnya
Di kota kecil tanpa nama
Tubuh berbalut luka
Menjadi saksi kebisuan negeri antah berantah
Tak tahu siapa penyebabnya?
Palembang, 26 April 2014
Menulis adalah jiwa, hati, dan pikiran yang menyatu satu sama lain dan tak pernah terpisahkan. Ketika goresan bergulir di atas kertas putih bersama tinta hati. Selamat Datang dan Selamat Membaca. Semoga bermanfaat. Keep Smile... ^_^
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 26 April 2014
Sabtu, 22 Desember 2012
Puisi di muat di Batak Pos, Medan 1 Desember 2012
Kerudung Jingga
Semburat senja menyamarkan
Kau berlalu tanpa kata
Hanya sebuah senyum yang
tercurahkan
Hingga kerudung jinggamu terhempas
semilir angin
Dalam keheningan aku menyapamu
Dibalik kerudung jingga
Kau pun tetap tak menjawab
Senyum dan bola matamu yang kau
siratkan
Menyimpan sebuah misteri
Siapakah pemilik kerudung jingga
itu?
Bolehkah aku mengenalnya lebih
dekat
Dan apakah mimpiku akan menjadi
nyata?
Ya Tuhan…
Siapakah nama pemilik kerudung
jingga itu?
Setiap senyum dan tatapan bola
matanya
Sangat meneduhkan jiwa ini
Ya Tuhan…
Ijinkanlah aku bertemunya walau itu
hanya sesaat
Karna jiwa ini mulai meronta
Merindu atas kasih dan cinta-Mu
yang tak mampu meredam
Puisi di muat di Sumatera Ekpress (Expresi) 6 Juli 2012
Keheningan Malam
Palembang, 29 Juni 2012
Ya, Tuhan…
Di malam yang begitu hening
Aku terkukung membisu
Dinding-dinding putih membeku
Ya, Tuhan…
Di manakah aku saat ini?
Jiwaku terombang-ambing
Aku seperti batang tak bercabang
Ya, Tuhan…
Kuatkanlah imanku
Jadikanlah aku manusia sempurna di
matamu
Luluhkan semua dosaku
Ya, Tuhan…
PadaMu, aku bersimpuh
Memohon segala risalah
Di keheningan malam, aku merinduMu
Puisi di muat di Republika Online 19 April 2012
BALADA RONGGENG
Di tengah
keheningan malam. Gendang bertalu-talu. Riuh lampu malam semakin memanas.
Sebuah panggung
tidak besar. Sosok perempuan nan jelita. Dengan pakaian khasnya meliuk-liukkan
tubuhnya.
Tepuk tangan
kembali berpadu. Asap rokok terus mengepul.
Mata nakal
mereka terus menatap keelokan penari.
Gendang terus
bertalu. Menghentak pinggul penari menggoda hasrat untuk mendekap. Saweran
terselip di dada dan gendang ikut bertalu..
Demi sesuap
nasi. Ia lakonu kemunafikan ini. Baginya, malam menjadi siang. Siang menjadi
malam. Begitulah kata orang. Ronggeng.
Biar kata orang
sana-sini. Hatinya bersikeras hanya untuk putrinya semata wayang.
Putri yang
senantiasa memberinya cahaya untuk masa depan.
Malam kembali
menghentak. Pukulan gendang semakin kencang. Liukkan pinggul serentak dengan
kesenyapan malam. Matanya sudah tidak kuat untuk mengikuti hentakan gendang.
Tapi, apa daya
demi putrinya. Ia lakukan apa saja. Halal.
Walau sebagian
orang mengganggapnya hina. Namun, ronggeng adalah pekerjaan mulia.
Menghibur orang
yang tengah jenuh.
Palembang, 2012
PENARI
Malam semakin
larut. Suara gendang mengalahkan derik jangkrik.
Sorot lampu
meremang di tengah keramaian.
Mata nakal
semakin menghasrat.
Air matanya
kembali meretas. Tak sanggup ia menahan. Batinnya tersiksa.
Cemoohan.
Hinaan. Ia terima. Tapi, apa daya…
Dengan menari ia
menghidupi keluarganya.
Palembang, 2012
http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/puisi-sastra/12/04/19/m2pz20-balada-ronggeng-dan-penari
Puisi di muat di Republika Online 21 Maret 2012
Aku Jatuhkan Talak Kepadamu
Tok… Tok… Tok…
Aku jatuhkan talak ketiga kepadamu
Saat ini kau sah
Berada dalam jeruji besi
Di mana semua mata telah menunjukmu…
Kini, canda dan tawamu
Akan menjadi cemooh semua publik
Apakah kau tak lihat saat ini?
Indonesiamu menangis…
Tetapi, di balik itu
Kau permainkan rakyatmu sendiri
Recehan demi recehan
Di kumpulkan untuk hidupnya
Tapi, di balik jasmu yang rapi
Kau buat sebuah pesta kecil
Hingga helak tawamu terdengar
Indonesia yang mendengar
Menjadi malu…
Di manakah rasa hatimu itu?
Kini, wajahmu telah tertunduk…
Perbuatanmu setimpal dengan talak itu
Meja hijau bisu
Telah menjadi saksi perbuatanmu
Selama ini
Hai, jasmu yang rapi…
Renungkanlah perbuatanmu…
Jangan sampai ulahmu terulang kembali…
Palembang, 5 Maret 2011
Tok… Tok… Tok…
Aku jatuhkan talak ketiga kepadamu
Saat ini kau sah
Berada dalam jeruji besi
Di mana semua mata telah menunjukmu…
Kini, canda dan tawamu
Akan menjadi cemooh semua publik
Apakah kau tak lihat saat ini?
Indonesiamu menangis…
Tetapi, di balik itu
Kau permainkan rakyatmu sendiri
Recehan demi recehan
Di kumpulkan untuk hidupnya
Tapi, di balik jasmu yang rapi
Kau buat sebuah pesta kecil
Hingga helak tawamu terdengar
Indonesia yang mendengar
Menjadi malu…
Di manakah rasa hatimu itu?
Kini, wajahmu telah tertunduk…
Perbuatanmu setimpal dengan talak itu
Meja hijau bisu
Telah menjadi saksi perbuatanmu
Selama ini
Hai, jasmu yang rapi…
Renungkanlah perbuatanmu…
Jangan sampai ulahmu terulang kembali…
Palembang, 5 Maret 2011
Dusta Cerita
Pilar-pilar cahaya membumbung ke angkasa
Asap kepul hilang menjadi gelak tawa
Recehan yang berhamburan terselip di antaranya
Sekecil harga tak digubrisnya
Lihatlah…
Rintihan tangis menahan perih
Langkah kaki yang tergontai
Perut kosong demi recehan
Dia sisihkan ke kantong hati
Tapi, apa yang kulihat di balik gedung sana?
Pakaian berdasi yang begitu rapi
Dia simpan seribu cara untuk hidupnya
Masih adakah perasaannya?
Demi bangsa ini
Tanya itu masih menggantung sejuta jawaban
Buih-buih cerita kau janjikan
Kini hanya dusta
Yang kau tinggalkan
Demi bangsa Indonesia
Janjimu hanyalah cerita belaka
Palembang, 5 Maret 2011
Pilar-pilar cahaya membumbung ke angkasa
Asap kepul hilang menjadi gelak tawa
Recehan yang berhamburan terselip di antaranya
Sekecil harga tak digubrisnya
Lihatlah…
Rintihan tangis menahan perih
Langkah kaki yang tergontai
Perut kosong demi recehan
Dia sisihkan ke kantong hati
Tapi, apa yang kulihat di balik gedung sana?
Pakaian berdasi yang begitu rapi
Dia simpan seribu cara untuk hidupnya
Masih adakah perasaannya?
Demi bangsa ini
Tanya itu masih menggantung sejuta jawaban
Buih-buih cerita kau janjikan
Kini hanya dusta
Yang kau tinggalkan
Demi bangsa Indonesia
Janjimu hanyalah cerita belaka
Palembang, 5 Maret 2011
Buih Koruptor
Pekat dingin tak kausalami
Lebur jiwa tak kauindahi
Hingga inilah sebab akibatmu
Hai, buih yang terpojok
Lihatlah sosok itu
Diam tanpa kata
Kepul asapnya pun makin menjadi
Warna-warnanya pun tetap kian menarik
Di bisunya dinding-dinding hari
Namun, tak kaupahami
Di luar buihmu
Ada jiwa yang menjerit
Segenggam recehan terus di raihnya
Tapi, di balik itu
Kau buat permainan kecil
Hingga semuanya menjadi sengsara
Kini, buihmu tak lagi khusus
Tetapi buihmu dicap maklumat koruptor
Mata-mata pun yang menatapmu
Enggan hadir untuk membela
Buihmu…
Hanya membisu di antara hari-harimu
Nikmatilah di balik keseragaman…
Palembang, 7 Maret 2011
Pekat dingin tak kausalami
Lebur jiwa tak kauindahi
Hingga inilah sebab akibatmu
Hai, buih yang terpojok
Lihatlah sosok itu
Diam tanpa kata
Kepul asapnya pun makin menjadi
Warna-warnanya pun tetap kian menarik
Di bisunya dinding-dinding hari
Namun, tak kaupahami
Di luar buihmu
Ada jiwa yang menjerit
Segenggam recehan terus di raihnya
Tapi, di balik itu
Kau buat permainan kecil
Hingga semuanya menjadi sengsara
Kini, buihmu tak lagi khusus
Tetapi buihmu dicap maklumat koruptor
Mata-mata pun yang menatapmu
Enggan hadir untuk membela
Buihmu…
Hanya membisu di antara hari-harimu
Nikmatilah di balik keseragaman…
Palembang, 7 Maret 2011
http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/puisi-sastra/12/04/12/m2awo1-dusta-cerita-puisi
Minggu, 28 Oktober 2012
Negeriku Tak Merdeka ; Sumpah Pemuda
Lihat, para pemuda di ujung jalan sana
Suaranya berteriak memekik keadilan
Tapi, apa…
Gedunggedung pencakar langit membisu
Lihat, para pemuda berjas biru
Air matanya mengalir tiada henti
Kepergian sahabatnya
Hanya menjadi kenangan
Lihat, dibalik gedung putih membisu
Para penjabat masih menerima secawan tuak
; korupsi, narkoba merajalela
Gelak tawanya terdengar hingga di ujung jalan
Lihat, mobilmobil hitam pekat
Memekik telinga
Mengarung jalanan ibukota
Rangkaian bunga duka bertebaran
Apakah negeri ini telah merdeka?
Teriak para pemuda berjas kuning
Dengan lantang di ujung jalan sana
Tidak…
Negeri ini belum merdeka
Palembang, 28 Oktober 2012
Sabtu, 04 Agustus 2012
SEMU (Palembang-Semarang)
Dia hanya semu, semu, dan semu
Kenapa kau datang jika akhirnya hanya semu?
Jika dia datang bagai semu
Hilangkan rasa semu itu menjadi nyata
Dan hadirkan dia nyata di antara semu
Apakah masih ada harapan menjadi nyata?
Semu tetaplah menjadi semu
Aku bodoh tergoda dengan kesemuanmu
Jika ingin berharap
Hanya dengan berdoa
Agar menjadi nyata
Aku gerah dengan kondisi ini
Lenyapkan semuanya
Buang saja
Jangan dekati aku lagi…
Aku tak mendekatimu
Kenapa kau makin mendekat?
Disaat aku menjauh…
Kalau begitu aku akan enyah
Sejauh yang kau mau
Apakah kau benar-benar lenyap dari hidupku?
Apakah kau mau berjanji tidak akan datang kepadaku kembali?
Jawab!
Jika itu maumu, baiklah aku akan pergi
Sejauh yang kau inginkan….
Palembang-Semarang
Ayumi Maulida & Echa Kare
4 Agustus 2012
Kenapa kau datang jika akhirnya hanya semu?
Jika dia datang bagai semu
Hilangkan rasa semu itu menjadi nyata
Dan hadirkan dia nyata di antara semu
Apakah masih ada harapan menjadi nyata?
Semu tetaplah menjadi semu
Aku bodoh tergoda dengan kesemuanmu
Jika ingin berharap
Hanya dengan berdoa
Agar menjadi nyata
Aku gerah dengan kondisi ini
Lenyapkan semuanya
Buang saja
Jangan dekati aku lagi…
Aku tak mendekatimu
Kenapa kau makin mendekat?
Disaat aku menjauh…
Kalau begitu aku akan enyah
Sejauh yang kau mau
Apakah kau benar-benar lenyap dari hidupku?
Apakah kau mau berjanji tidak akan datang kepadaku kembali?
Jawab!
Jika itu maumu, baiklah aku akan pergi
Sejauh yang kau inginkan….
Palembang-Semarang
Ayumi Maulida & Echa Kare
4 Agustus 2012
Rabu, 20 Juni 2012
Kumpulan Puisi Facebook ~ Ayumi Maulida
Bukan aku, diam berarti marah
Bukan pula aku, diam berarti merajuk
Aku memilih diam
Karena sesuatu...
Disini langit malam terbentang
Cahayanya pun senantiasa tersenyum membias
Ingin aku dekap
Tapi, aku sadar...
Ia menjauh
Ah, sudahlah...
Malam ini aku tetap tersenyum
Langit malam tidak mereddup
Cahayanya pun senantiasa mengintai
Dimana pun berada
Aku merindunya...
20.06.2012
20.23
Hancur...
Luluh lantah...
Kini, duniaku kelam
Kepada siapa aku mengadu?
Air mata ini tak bernilai
Sudah lelah aku berlari
Sudah lelah aku mendaki
Tapi, apa yang aku dapatkan
Di sana hanya ada sebongkah batu
Tawa gelak dunia tak lagi peduli
Kini, duniaku tak seceria
Senyum tawanya senyap
Kesyahduan angin hanya sesekali menerpa
Di ujung kerudung tak bersuara
Aku mendengar bisik hatimu
18.06.2012
14.20
Baru kali ini, aku begitu tertatih
Sungguh, aku tidak sanggup...
Tapi, dalam kurun waktu tak terhitung
Tiba-tiba kau hadir dalam hidupku
Setiap detak nadimu
Kau bagai pelita hatiku
Setiap desah nafasmu
Kau bagai rusukku
Sungguh, aku terpukau...
16/06/2012
14.05
Aku tertatih tanpa kata
Aku terombang-ambing di tengah lautan
Masihkah ada jiwa peduli
Tanyaku menggantung
Ingin aku berontak
Tapi, percuma...
Suaraku nyaris habis
01/06/2012
20.18
Bukan pula aku, diam berarti merajuk
Aku memilih diam
Karena sesuatu...
Disini langit malam terbentang
Cahayanya pun senantiasa tersenyum membias
Ingin aku dekap
Tapi, aku sadar...
Ia menjauh
Ah, sudahlah...
Malam ini aku tetap tersenyum
Langit malam tidak mereddup
Cahayanya pun senantiasa mengintai
Dimana pun berada
Aku merindunya...
20.06.2012
20.23
Hancur...
Luluh lantah...
Kini, duniaku kelam
Kepada siapa aku mengadu?
Air mata ini tak bernilai
Sudah lelah aku berlari
Sudah lelah aku mendaki
Tapi, apa yang aku dapatkan
Di sana hanya ada sebongkah batu
Tawa gelak dunia tak lagi peduli
Kini, duniaku tak seceria
Senyum tawanya senyap
Kesyahduan angin hanya sesekali menerpa
Di ujung kerudung tak bersuara
Aku mendengar bisik hatimu
18.06.2012
14.20
Baru kali ini, aku begitu tertatih
Sungguh, aku tidak sanggup...
Tapi, dalam kurun waktu tak terhitung
Tiba-tiba kau hadir dalam hidupku
Setiap detak nadimu
Kau bagai pelita hatiku
Setiap desah nafasmu
Kau bagai rusukku
Sungguh, aku terpukau...
16/06/2012
14.05
Aku tertatih tanpa kata
Aku terombang-ambing di tengah lautan
Masihkah ada jiwa peduli
Tanyaku menggantung
Ingin aku berontak
Tapi, percuma...
Suaraku nyaris habis
01/06/2012
20.18
Minggu, 12 Februari 2012
Kebekuan Malam
Malam ini terasa hening
Hanya kebekuan yang mampu kurasakan
Terkadang aku mencoba mencari cara agar rasa beku itu hilang
Tapi,
Tubuhku ini semakin menggigil
Kabut malam yang melintas di keheningan
Semakin merayap
Sejenak aku rebahkan tubuh ini di atas kebekuan
Tatapan mataku memandang ke langit
Namun, bukanlah cahaya yang aku dapatkan
Tapi kegelapan yang telah membungkam asaku
Kini aku hanyalah seonggok kayu
Kayu yang mulai memiliki rongga di setiap sudut
Terkadang kayu ini akan merapuh
Bersama waktu aku mulai tidak berdaya
Tangisan pun semakin mendera
Jemari pun seakan tidak mampu aku genggam
Palembang, 12 Februari 2012
01.00
Hanya kebekuan yang mampu kurasakan
Terkadang aku mencoba mencari cara agar rasa beku itu hilang
Tapi,
Tubuhku ini semakin menggigil
Kabut malam yang melintas di keheningan
Semakin merayap
Sejenak aku rebahkan tubuh ini di atas kebekuan
Tatapan mataku memandang ke langit
Namun, bukanlah cahaya yang aku dapatkan
Tapi kegelapan yang telah membungkam asaku
Kini aku hanyalah seonggok kayu
Kayu yang mulai memiliki rongga di setiap sudut
Terkadang kayu ini akan merapuh
Bersama waktu aku mulai tidak berdaya
Tangisan pun semakin mendera
Jemari pun seakan tidak mampu aku genggam
Palembang, 12 Februari 2012
01.00
Sabtu, 14 Januari 2012
Aksara Terindah
Teruntuk ; Alm. Ibunda dari sahabatku Tri Vivin Alvina
Enam tahun yang lalu
Masih kuingat guratan teduh wajahmu
Senyummu yang begitu lepas
Kala kami membuat rusuh
Secangkir sirup segar penghilang dahaga
Sepiring puding cokelat susu
Kau sajikan untuk kami
Empat tahun yang lalu
Guratan teduh wajahmu masih sangat kurasa
Kala itu putri kesayanganmu telah dipinang
Kamipun berkumpul menjadi satu
Suka dan dukapun menyambut
Ketika si bungsumu tidak mau diajak foto bersama
Kamilah yang merayunya
Tiga tahun yang lalu
Sudah lama aku tak menjengukmu
Sudah lama pula aku tak menyapamu, Ibu
Walau saat itu engkau telah sedikit pelupa
Namun, aku tahu di hatimu masih ada sejuta cinta dan rindu
Kala kami berkumpul dan selalu membuat rusuh
Kamipun merindu kala itu tiba, Ibu
Genap sudah tahun berlalu
Aku masih tak percaya
Ketika sebuah pesan singkat menghampiri ponselku
Putrimu yang telah dipinang nan jauh disana
Memberi kabar kepadaku
Sungguh, aksara terindah ini akan aku kenang, Ibu
Palembang, 14.01.2012
Enam tahun yang lalu
Masih kuingat guratan teduh wajahmu
Senyummu yang begitu lepas
Kala kami membuat rusuh
Secangkir sirup segar penghilang dahaga
Sepiring puding cokelat susu
Kau sajikan untuk kami
Empat tahun yang lalu
Guratan teduh wajahmu masih sangat kurasa
Kala itu putri kesayanganmu telah dipinang
Kamipun berkumpul menjadi satu
Suka dan dukapun menyambut
Ketika si bungsumu tidak mau diajak foto bersama
Kamilah yang merayunya
Tiga tahun yang lalu
Sudah lama aku tak menjengukmu
Sudah lama pula aku tak menyapamu, Ibu
Walau saat itu engkau telah sedikit pelupa
Namun, aku tahu di hatimu masih ada sejuta cinta dan rindu
Kala kami berkumpul dan selalu membuat rusuh
Kamipun merindu kala itu tiba, Ibu
Genap sudah tahun berlalu
Aku masih tak percaya
Ketika sebuah pesan singkat menghampiri ponselku
Putrimu yang telah dipinang nan jauh disana
Memberi kabar kepadaku
Sungguh, aksara terindah ini akan aku kenang, Ibu
Palembang, 14.01.2012
Senin, 09 Januari 2012
MENULIS
Menulis...
Menulis...
Menulis...
Menulis...
Menulis...
Menulis...
Dan menulis...
Namun, aku seperti lemah
Jiwaku terapung di antara lembah curam
Inginku teriak di antara keramaian
Tapi, keheninganku kembali menyeribak
Sepertinya aku bukan seperti dulu
; kertas, pulpen, pensil, laptop
Hanya penghias ruang kamarku
Kata-kata yang dulunya menjadi ruang hidup
Meredam entah kemana?
Kucoba mengais hasta-hasta cinta
Namun, setitik itu menghilang
Menulis, kembalikan aku seperti dahulu
Cinta dan hasta akan kuukir sepanjang hayat
Palembang, 24 September 2011
Ayumi Maulida
Menulis...
Menulis...
Menulis...
Menulis...
Menulis...
Dan menulis...
Namun, aku seperti lemah
Jiwaku terapung di antara lembah curam
Inginku teriak di antara keramaian
Tapi, keheninganku kembali menyeribak
Sepertinya aku bukan seperti dulu
; kertas, pulpen, pensil, laptop
Hanya penghias ruang kamarku
Kata-kata yang dulunya menjadi ruang hidup
Meredam entah kemana?
Kucoba mengais hasta-hasta cinta
Namun, setitik itu menghilang
Menulis, kembalikan aku seperti dahulu
Cinta dan hasta akan kuukir sepanjang hayat
Palembang, 24 September 2011
Ayumi Maulida
Sabtu, 07 Januari 2012
10 INCI
Di depan layar tak beraksara
Aku terdiam membisu
Aku pandangi layar yang hanya berukuran 10 inci
Tidak serupa dengan televisi di ruanganku
Dengan bluur layarku mengerdipkan warna-warna indahnya
Satu-persatu data di desktop muncul
Anti virus pun mulai bekerja sesuai tugasnya
mengisntal semua data yang tersimpan
Layar 10 inci pun total bersih dari virus
Dengan pelan, aku buka kembali beberapa dokumen
Dengan khidmat, aku eja kalimat demi kalimat menjadi sebuah sajak
Namun, sayang sajak itu hilang
Aku sendiri tidak tahu kemana sajak itu menghilang
Akupun kembali membisu
Hanya deru musik pop-jazz, nasyid yang menemaniku
Di layar 10 inci tak beraksara
Palembang, 2012
Sweety Home Alone
Aku terdiam membisu
Aku pandangi layar yang hanya berukuran 10 inci
Tidak serupa dengan televisi di ruanganku
Dengan bluur layarku mengerdipkan warna-warna indahnya
Satu-persatu data di desktop muncul
Anti virus pun mulai bekerja sesuai tugasnya
mengisntal semua data yang tersimpan
Layar 10 inci pun total bersih dari virus
Dengan pelan, aku buka kembali beberapa dokumen
Dengan khidmat, aku eja kalimat demi kalimat menjadi sebuah sajak
Namun, sayang sajak itu hilang
Aku sendiri tidak tahu kemana sajak itu menghilang
Akupun kembali membisu
Hanya deru musik pop-jazz, nasyid yang menemaniku
Di layar 10 inci tak beraksara
Palembang, 2012
Sweety Home Alone
Selasa, 03 Januari 2012
Harapan
Setahun berlalu sangat cepat
Banyak kenangan yang tidak bisa aku lupakan
Sejenak aku mencoba untuk merenung
Namun, renungan itu semakin menyayat
Ketika luka itu hadir
Dan berharap di awal tahun
Luka itu tak lagi menyayat dan membekas
Sungguh, walau itu terasa amat sulit
Hanya dengan kesungguhan semuanya akan sirna
Cahaya pun akan terang benderang
Palembang, 03 Januari 2012
Sabtu, 10 Desember 2011
Di Tepi Sungai Musi
Di tepi Sungai Musi
Aku duduk bersanding dengan dirimu
Dengan malu,
Aku hanya bisa tersenyum
Di tepi Sungai Musi
Kau bercerita tentangmu
Sorot matamu seakan mentap tajam ke mataku
Dalam diam, aku hanya bisa tersipu malu
Di tepi Sungai Musi
Canda tawamu mengalahkan segalanya
Hingga kapal-kapal yang melaju
Menatap keceriaanmu
Di tepi Sungai Musi
Denganmu aku mendapat kebahagiaan
Walau sejenak, senja telah menjadi saksinya
Di tepi Sungai Musi
Akan aku kenang di antara kita
Walau sejatinya akan ada persahabatan
Yang akan terikat di hati
Palembang, 12/10/2011
Aku duduk bersanding dengan dirimu
Dengan malu,
Aku hanya bisa tersenyum
Di tepi Sungai Musi
Kau bercerita tentangmu
Sorot matamu seakan mentap tajam ke mataku
Dalam diam, aku hanya bisa tersipu malu
Di tepi Sungai Musi
Canda tawamu mengalahkan segalanya
Hingga kapal-kapal yang melaju
Menatap keceriaanmu
Di tepi Sungai Musi
Denganmu aku mendapat kebahagiaan
Walau sejenak, senja telah menjadi saksinya
Di tepi Sungai Musi
Akan aku kenang di antara kita
Walau sejatinya akan ada persahabatan
Yang akan terikat di hati
Palembang, 12/10/2011
Minggu, 13 November 2011
GEBYAR 100 PUISI PAHLAWAN- PAHLAWAN PEMATANG
Pagi itu, tubuh yang telah di makan usia meninggalkan gubuknya
Dengan kaki telanjang dan sebuah bakul yang di gendongnya
Senyum manisnya begitu teduh
Tidak ada tanda-tanda rasa perih yang menusuk hari-harinya
Dengan semangat menggelora
Dia langkahkan kakinya ke pematang sawah
Pagi itu, permadani hijau begitu indah
Burung-burung pun tak mau kalah bersanding dengan guratan mentari
Seakan tak pernah letih, dia terus memangkas padi yang mulai keemasan
Masa panen telah tiba
Siang itu, mentari kembali terik
Keringat sebutir jagung terus mengucur dari dahinya
Guratan wajahnya pun tak nampak keletihan
Senyum teduh di balik bola matanya semakin menggelora
Apakah dia pahlawan yang aku cari selama ini?
Senja pun mulai menjemput
Pematang sawah yang sedarinya menghijau
Kini, lenyap bersama mentari
Kaki telanjangnya pun mulai beranjak dari pematang
Dengan sebuah bakul yang telah diisi beberapa butiran beras
Semangatnya terus berkibar
Seperti kata pahlawan pematang
"Teruslah Maju Indonesiaku"
Palembang, November 2011
Ayumi Maulida nama pena dari Siti Fatimah, A.Ma, Pd. Lahir di Palembang, 5 Juli 1986. Lulusan D-II FKIP PGTK UNSRI 2005. Aktivitas seorang guru private TK dan SD. Selain itu, aktif di Komunitas Virus Baca dan Anggota FLP Palembang. Karyanya di Antologi Puisi Kado Untuk Indonesia 2011(Literar Khatulistiwa), Antologi Puisi Justin Bieber My Idol 2011(Leutika Prio), Antologi Curahan Hati Untuk Tuhan 2011 (Leutika Prio), Antologi Sehangat Dekapan Cinta Ramadhan 2011 (Leutika Prio), Antologi Kumcer WR 01 2011(Leutika Prio), dan beberapa antologi yang masih dalam proses penerbitan.
E-mail : istiqomah_ayumi@ymail.com
FB : Shitie Fatimah Maniezz
Ikatan Suci
Satu cinta
Terikat dalam satu jiwa
Dua cinta
Terjerat dalam satu asmara
Tiga cinta
Terjebak dalam satu aksara
Empat cinta
Saling menyatu berpadu di dunia
Cintamu cintaku cintakau cintakalian
Menjadi ikatan suci
11/11/2011
Jumat, 28 Oktober 2011
PARADE 100 PUISI SUMPAH PEMUDA - HAI, PEMUDI-PEMUDA INDONESIA, BANGKITLAH!
Hai, pemudi-pemuda Indonesia, bangkitlah!
Singsingkan lengan bajumu
Tumpahkan darahmu dalam karya-karya sejati
Bersatu padu untuk bangsamu
Hai, pemudi-pemuda Indonesia, bangkitlah!
Tonggak tanah air ada di tanganmu
Genggamlah kebersamaan
Jauhkanlah pertikaian membutakan jiwa
Hai, pemudi-pemuda Indonesia, bangkitlah!
Singsingkan lengan bajumu
Dirikanlah bangsamu dengan kedamaian
Tebarkan budaya nasionalisme di dada
Hai, pemudi-pemuda Indonesia, bangkitlah!
Junjunglah bahasamu, bahasa Indonesia
Bahasa pemersatu
Tanah air tanah Indonesia
Palembang, 28 Oktober 2011
Ayumi Maulida
Singsingkan lengan bajumu
Tumpahkan darahmu dalam karya-karya sejati
Bersatu padu untuk bangsamu
Hai, pemudi-pemuda Indonesia, bangkitlah!
Tonggak tanah air ada di tanganmu
Genggamlah kebersamaan
Jauhkanlah pertikaian membutakan jiwa
Hai, pemudi-pemuda Indonesia, bangkitlah!
Singsingkan lengan bajumu
Dirikanlah bangsamu dengan kedamaian
Tebarkan budaya nasionalisme di dada
Hai, pemudi-pemuda Indonesia, bangkitlah!
Junjunglah bahasamu, bahasa Indonesia
Bahasa pemersatu
Tanah air tanah Indonesia
Palembang, 28 Oktober 2011
Ayumi Maulida
Selasa, 25 Oktober 2011
Aksara Cinta
Angin
Kaulah nafasku
Senyumanmu menghentak jiwaku
Andai malam ini
Ragamu ada disini
Akan kucumbu mesra dengan cahaya rindu
Cahaya yang kau ukir untukku
Indahnya akan tersemat
Namamu kan selalu tersimpan
Tak peduli siang-malam
Aku akan merindu dan mencintaimu, angin
Palembang, 24/10/2011
Kaulah nafasku
Senyumanmu menghentak jiwaku
Andai malam ini
Ragamu ada disini
Akan kucumbu mesra dengan cahaya rindu
Cahaya yang kau ukir untukku
Indahnya akan tersemat
Namamu kan selalu tersimpan
Tak peduli siang-malam
Aku akan merindu dan mencintaimu, angin
Palembang, 24/10/2011
Selasa, 09 Agustus 2011
Bidadari Cahaya Putih
; Untuk Mbakku Phoenix Wibowo (Rizki Mumpuni)
/1/
Dalam rengkuh waktu
Aku mencoba mengais hasta-hasta yang tersisa
Tapi, hasta itu kunjung jua hadir
Sebersit cahaya putih mengepakkan sayapnya
Tatapan mata biru yang indah
Serta seulas senyum teduh
Hadir memberi warna
Kini, hilang seketika
/2/
Akar-akar menggantung di antara pohon beringin
Tak mampu meredam semuanya
Ketika buliran demi buliran menetes
Tiap rusukku terasa perih
Seperih anak jarum yang menyayat belati
Tanah yang berdebu pun tak mampu kubendung
Ketika hujan langit telah tiba
Tanah putih yang seputih melati
Dan seharum sedap malam
Kini, memerah seketika
Bidadari cahaya putih
Akan aku ukir namamu di hati
Palembang, 9 Agustus 2011
19.01
/1/
Dalam rengkuh waktu
Aku mencoba mengais hasta-hasta yang tersisa
Tapi, hasta itu kunjung jua hadir
Sebersit cahaya putih mengepakkan sayapnya
Tatapan mata biru yang indah
Serta seulas senyum teduh
Hadir memberi warna
Kini, hilang seketika
/2/
Akar-akar menggantung di antara pohon beringin
Tak mampu meredam semuanya
Ketika buliran demi buliran menetes
Tiap rusukku terasa perih
Seperih anak jarum yang menyayat belati
Tanah yang berdebu pun tak mampu kubendung
Ketika hujan langit telah tiba
Tanah putih yang seputih melati
Dan seharum sedap malam
Kini, memerah seketika
Bidadari cahaya putih
Akan aku ukir namamu di hati
Palembang, 9 Agustus 2011
19.01
Selasa, 02 Agustus 2011
Bidadari Penyejuk Jiwa
Namanya mengingatkanku pada masa silam
Kala suka maupun duka selalu ada
Kini, namanya hadir kembali
Membentuk sebuah hati yang tak terpisahkan
Dalam gelembung waktu
Aku ingin memeluknya
Bersapa ria tiada batas
Di balik kerudungnya
Aku merasa nyaman hatiku pun teduh
Dia bidadari penyejuk jiwa
Di setiap petuahnya aku mendapat hikmah
Di setiap petuahnya pula aku mendapat inspirasi baru
Ketika aku sedih…
Bidadari bermata indah dengan balutan kerudung hijau
Hadir…
Memberi seuntai senyuman
Tatapan matanya pun sangat sejuk
Ketika suaranya terdengar makin sejuk
Dialah bidadari penyejuk jiwa
Senantiasa memberi motivasi kepada siapapun
Palembang, 28 Juli 2011
Kala suka maupun duka selalu ada
Kini, namanya hadir kembali
Membentuk sebuah hati yang tak terpisahkan
Dalam gelembung waktu
Aku ingin memeluknya
Bersapa ria tiada batas
Di balik kerudungnya
Aku merasa nyaman hatiku pun teduh
Dia bidadari penyejuk jiwa
Di setiap petuahnya aku mendapat hikmah
Di setiap petuahnya pula aku mendapat inspirasi baru
Ketika aku sedih…
Bidadari bermata indah dengan balutan kerudung hijau
Hadir…
Memberi seuntai senyuman
Tatapan matanya pun sangat sejuk
Ketika suaranya terdengar makin sejuk
Dialah bidadari penyejuk jiwa
Senantiasa memberi motivasi kepada siapapun
Palembang, 28 Juli 2011
Langganan:
Postingan (Atom)